Di sebuah sudut kota hidup seorang ibu kira-kira setengah baya umurnya, bersama seorang anak lelaki yang umurnya masih muda, mereka hanya tinggal berdua di sebuah rumah yang dapat dikatakan lumayan untuk ditinggali dua orang. Ibu itu bekerja sebagai buruh jahit, tidak banyak uang yang dia punya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia seorang yang ramah dan rendah hati kepada sesamanya. Namun, berbanding terbalik dengan anak lelakinya.
Tidak tentram tidak pula aman kota itu, banyak penjarah yang sering menodong para pedagang yang berdagang. Karena daerah tropis maka kebanyakan penduduknya hidup dari hasil ladang yang digarapnya sendiri ataupun diburuhkan kepada orang lain. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai buruh ladang, tapi ada juga yang mengganggur. Anak lelaki itu termasuk orang yang penggangguran karena dia sangat malas bekerja.
Sistem pemerintahan kota itu seperti kerajaan, apabila ada tindak kejahatan yang sangat merugikan maka siapapun yang didapati melakukan tindakan tersebut akan di hukum gantung. Ibu itu sangat sayang kepada anak laki-laki satu-satunya itu, apa yang anak inginkan ibunya selalu menuruti walau terkadang uang yang didapatnya untuk makan, dia rela memberikannya semua untuk anaknya.
Suatu ketika si anak ikut teman-teman sebayanya, tindak kekerasan di kota itu sangat tinggi. Si anak tak pernah mau tinggal diam di dalam rumah untuk menjaga ibunya, dia jarang di rumah dan sering berpergian. Yang dia lakukan hanya meminta uang dan menghabiskan semua barang yang di miliki ibunya.Tanpa sang ibu ketahui si anak di luar begitu liar, dia membunuh banyak orang untuk menjarah barang-barang orang yang telah di bunuhnya.
Suatu ketika dia tertangkap oleh pihak keamanan pemerintah, hukuman sudah menjadi kebijakan, maka si anak tidak dapat melepaskan diri dari jerat hukum. Ketika sang ibu mendengar kabar tersebut, sangat sedihlah hatinya. Anak satu-satu yang dikasihinya ternyata seorang pembunuh yang sudah banyak memakan korban. Setiap ada prosesi pemasungan bagi para pelaku maka lonceng besar yang ada di tengah kota di bunyikan, menandakan jika ada seseorang di hukum mati.
Sang ibu bingung apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan anaknya, sambil menangis dan kebingungan dia memutuskan untuk pergi ke tengah kota sebelum sang anak di arak ke tengah kota danjprosesi pemasungan di lakukan. Orang-orang beramai-ramai datang ke tengah kota untuk menyaksikan siapa yang akan di hukum mati, dan petugas lonceng bersiap-siap untuk membunyikan lonceng.
Ketika petugas membunyikan lonceng pertama lonceng tidak berbunyi, dia mencoba untuk kedua kalinya masih saja tidak berbunyi, ketiga hingga ketujuh lonceng tetap tidak berbunyi. Namun, saat petugas membunyikan lonceng yang ke tujuh pada tali tampar yang digunakan untuk nmembunyikan lonceng mengalir darah dari arah atas tali tersebut. Sang petugas berusaha mencari tahu dari mana darah itu berasal, sehingga dia naik ke atas lonceng untuk memeriksa ada apa di dalam lonceng.
Sang petugas terkejut ketika ada mayat seorang ibu telah gepeng di badan lonceng dan bersimbah darah. ketika petugas turun dan memberitahukan kepada rekannya maka sang anak terkejut setelah diketahui ternyata mayat wanita yang di dalam lonceng adalah ibunya.
Sang anak menangis dan tersadar betapa besar kasih ibunya untuk dirinya yang telah berdosa. Sang ibu menanggung penderitaan yang seharusnya tidak dia tanggung, sejak saat itu sang anak berubah menjadi seseorang yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.
Selasa, 23 April 2013
Selasa, 16 April 2013
Senja Yang Terlewat
Dikala senja menyapa, matahari mengakhiri pesonanya....
Pandangan luas saat ku pandang hamparan laut lepas,
barisan awan menghiasi jagad raya terang,
di sini aku dan dia melewatinya...
Ku rengkuh pinggang melingkar dan kurasakan hangan dekapanku,
tak ku pedulikan siapapun melihat,
ini tempat ku dimana sekarang berpijak,
ini hari ku dimana aku hidup,
dia milik ku yang sekarang ku dekap.
Kawana ombak menyerbu karang seolah ingin menyentuhku,
ku rasakan angin meniup raga ku seolah memberi sentuhan nafas.
ku kenang hari ini, peristiwa ini, tempat ini untuk menjadi saksi dimana aku dan dia menjalin asmara...
ku abadikan setiap gerak dengan pancaran blitz kamera,
untuk menjadi saksi nyata dimana aku dan dia pernah bersama...
Pandangan luas saat ku pandang hamparan laut lepas,
barisan awan menghiasi jagad raya terang,
di sini aku dan dia melewatinya...
Ku rengkuh pinggang melingkar dan kurasakan hangan dekapanku,
tak ku pedulikan siapapun melihat,
ini tempat ku dimana sekarang berpijak,
ini hari ku dimana aku hidup,
dia milik ku yang sekarang ku dekap.
Kawana ombak menyerbu karang seolah ingin menyentuhku,
ku rasakan angin meniup raga ku seolah memberi sentuhan nafas.
ku kenang hari ini, peristiwa ini, tempat ini untuk menjadi saksi dimana aku dan dia menjalin asmara...
ku abadikan setiap gerak dengan pancaran blitz kamera,
untuk menjadi saksi nyata dimana aku dan dia pernah bersama...
Langganan:
Postingan (Atom)