Selasa, 14 Mei 2013

Cerita Jalanan

Ku telususri panjangnya jalan raya kota,
semua gambaran kehidupan terkuak disini.
Dimulai dari orang berpendidikan tinggi hingga berpendidikan rendah,
semua nampak disini.
Pengemis, pengamen, gelandangan hingga pejabat tinggi negara ada di jalan,
dari sepeda kayuh, becak hingga mobil berplat mewah melenggang menelusuri jalanan.
Semua terpampang jelas kehidupannya dan orang dapat membedakan mana yang kaya dan miskin.
Saksi bisu adalah Lampu Merah yang senantiasa setia memberikan tempat bagi mereka yang mencari sekeping receh untuk mengisi kekosongan perut yang lapar.
Dan aku hanya duduk di pinggiran jalan sebagai penulis dan penonton semua kehidupan itu,
bagai sebuah alur cerita di dalam dunia pertelevisian.
Dan cerita ini nyata tanpa ada karangan.

Jalanan menggambarkan sebuah kehidupan seseorang,
jalan yang mulus dan halus membutuhkan banyak proses dan pemikiran dalam membuatnya.
Bahan yang digunakan pun bahan pilihan bukan bahan yang asal-asalan,
berbeda dengan jalan yang rusak proses dan cara membuat beserta bahan yang digunakan asal-asalan yang terpenting bahan tersebut dapat dipakai untuk membuat jalan.
Sama seperti hidup manusia, jika ingin hidup mulus dan halus harus mengikuti proses dan prosedur serta berpikir secara genius untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Ada usaha yang dilakukan untuk dapat mencapai sebuah kenyamanan dalam hidup,
berbeda dengan hidup yang rusak tidak di mulai dengan proses yang baik dan prosedur yang ada, serta pemikiran kurang matang sehingga semua asal dikerjakan kemudian apa yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan karena semua yang dilakukan asal-asalan tidak menggunakan prosedur yang ada dan hasilnya mengecewakan.

Inilah kehidupan sebuah cerita yang takkan pernah habis seiring berjalannya waktu,
namun ada kalanya cerita itu berakhir dan selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar