Bangku pendidikan yang aku dapatkan selayaknya manusia normal, aku di TK 2 tahun karena SD menerima calon siswa jika sudah berumur 7 tahun jadi, aku lama di TK. Mulai TK nol Kecil sampai nolnya jadi besar. Setelah nolnya besar aku diperbolehkan untuk masuk ke Sekolah Dasar, pendaftaran pertama masuk SD aku diantar oleh ayahku. Karena sebelumnya kaka ku mantan siswa di SD itu jadi guru ku sudah familiar dengan raut wajah ayahku. Aku diterima oleh pihak sekolah untuk menimba ilmu di SD itu, semua persyaratan sekolah telah di penuhi oleh ayahku.
Tak terasa waktu 6 tahun kian berjalan begitu cepat, kenaikan sudah di depan mata dan selangkah lagi aku menginjak pendidikan SMP. Setiap hari mati-matian belajar dan les menjadi kegiatanku setiap hari dan setiap jam, tak ada waktu untuk bermain ataupun bermalas-malasan. Waktu begitu berharga untuk di buang begitu saja, dan di tempas les benar-benar di gembleng untuk benar-benar bekerja kerar melunakkan semua soal-soal. Tiba waktu ujian dan pemilihan SMP aku berbeda dengan kakakku, aku mengambil SMP favorit di Jember. Saat tiba pengumuman Puji Tuhan aku masuk SMP 1 Jember, dan lagi-lagi ayahku yang mengantarku pendaftaran dan daftar ulang. Begitu sayang dan setianya ayahku selalu mendampingiku. Suatu kebanggaan tersendiri karena aku bisa dan aku mampu untuk menjadi seseorang yang patut dibanggakan oleh kedua orang tuaku, aku memang sedikit bebal dan lemot tidak telili dan grusa-grusu mau masuk ke SD saja aku belum bisa membaca dengan lancar karena kerjaku hanya bermain dan bermain. Dan kini aku tunjukkan bahwa aku bisa dan aku mampu.
3 tahun berlalu begitu singkat, kini aku sudah di ambang pintu untuk membuka dunia baru. Tak segiat waktu akan masuk SMP, akan masuk SMA aku begitu malas dan mengentengkan semuanya dan hasilnya aku dapatkan. Diterima SMA pinggiran dan keputusan orang tuaku untuk menempatkanku di sekolah swasta, dan sekolah itu tidak favorit melainkan dipandang sebelah mata oleh banyak orang. tidak pernah ku pedulikan apa yang banyak orang ucap karena aku bersikap sewajarnya, sesopannya dan mengikuti etika dan aturan.Hanya aku dengar sebagai pembelajaran dan motivasi.
Kelulusan pun dapat aku raih, setelah 9 tahun aku merasakan bangku pendidikan yang di wajibkan kini perjuanganku tidak sia-sia 9 tahun dibayar 3 hari kini telah lunas. Sekarang menunggu keputusan dari ke dua orang tua, ayahku menginginkan aku kuliah. Di fakultas mana saja boleh kamu pilih tapi di dalam Jember, aku turuti keinginan ayahku karena ayahku salah satu pegawai di sebuah Universitas Negeri di Jember.
Memang setiap pegawai di universitas itu mendapat jatah bagi setiap anak-anaknya dan tentunya ayahku memakai hak itu lagi, aku harus belajar dan mengikuti bimbel untuk bisa mendapatkan tiket masuk Universitas walau ayahku mendapatkan jatah. Aku mengandalkan kemampuanku untuk aku bekerja keras belajar mendapatkan tiket itu, alhasil aku mendapatkan tiket itu dan masuk di Prodi (pssi.unej.ac.id) yang baru saja di dirikan dan aku baru angkatan ke dua.
Aku sadar bahwa aku tak sebodoh itu, aku memiliki kemampuan namun aku susah untuk memerangi rasa malas itu. Aku terlalu sombong mengandalkan diriku sendiri, seharusnya yang ku andalkan adalah Dia yang memberiku hidup, Dia yang memeliharaku, Dia yang memampukanku, Dia yang menyediakan semuanya untukku, semua-semuanya dari Dia.
Teruslah belajar dan belajar yakini dirimu bahwa kamu bisa kamu mampu, mintalah hikmat dan penyertaan dari Dia, mendekatlah kepada-Nya yang memberimu nafas kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar